Budayapijay.or.id – Dalam upaya menjaga kelestarian warisan budaya daerah, Museum Kabupaten Pidie Jaya menyelenggarakan Pelatihan Menganyam Tikar Seuke yang berlangsung pada 18 Juni hingga 6 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk edukasi budaya sekaligus ruang transfer pengetahuan dari para pengrajin kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Tikar seuke merupakan salah satu kerajinan tradisional khas Aceh yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dahulu, hampir setiap rumah memiliki tikar seuke dengan berbagai ukuran, baik kecil maupun besar, yang disesuaikan dengan kebutuhan pemiliknya. Tikar ini biasanya dibentangkan di ruang tamu sebagai alas untuk menyambut tamu, menjalankan tradisi yang pada masa itu memiliki fungsi serupa dengan karpet atau permadani yang digunakan saat ini.
Bahan utama pembuatan tikar seuke berasal dari daun pandan yang telah melalui proses pengeringan. Daun tersebut kemudian diiris tipis dan dianyam secara manual hingga membentuk lembaran tikar yang kuat dan rapi. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, keterampilan, dan kesabaran karena setiap helai anyaman harus disusun dengan presisi agar menghasilkan produk yang berkualitas dan tahan lama.
Melalui pelatihan ini, para peserta diperkenalkan secara langsung pada setiap tahapan pembuatan tikar seuke, mulai dari pengenalan bahan baku, teknik pengolahan daun pandan, hingga praktik menganyam dengan pola-pola dasar. Para instruktur yang merupakan pengrajin berpengalaman juga menjelaskan bahwa pembuatan satu lembar tikar berukuran sekitar 2 x 2 meter dapat memerlukan waktu hingga dua hari, bahkan lebih lama untuk ukuran yang lebih besar atau motif yang lebih rumit.
Selain mempelajari teknik menganyam, peserta juga memperoleh wawasan mengenai perkembangan kerajinan pandan di Pidie Jaya. Seiring perubahan zaman dan menurunnya permintaan terhadap tikar tradisional akibat hadirnya berbagai produk pabrikan, para pengrajin terus melakukan inovasi agar kerajinan anyaman tetap memiliki nilai ekonomi. Saat ini, daun pandan tidak hanya diolah menjadi tikar, tetapi juga dikreasikan menjadi berbagai produk kerajinan seperti tas, sandal, kotak tisu, bingkai foto, bingkai cermin, hingga berbagai cendera mata lainnya.
Pelatihan ini turut menghadirkan para pengrajin lokal yang berbagi pengalaman mengenai perjalanan mereka dalam mempertahankan kerajinan tradisional. Mereka menceritakan bagaimana keterampilan menganyam tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pidie Jaya, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian keluarga. Berbagai kelompok perajin yang berkembang di Kecamatan Trienggadeng dan Kecamatan Meurah Dua menjadi bukti bahwa kerajinan tikar seuke masih terus hidup dan berkembang melalui inovasi produk.
Museum Kabupaten Pidie Jaya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk mempelajari keterampilan tradisional. Dengan mengenal proses pembuatannya secara langsung, peserta diharapkan mampu memahami nilai budaya, filosofi, serta kerja keras yang terkandung dalam setiap helai anyaman tikar seuke.
Pelaksanaan pelatihan selama hampir tiga minggu ini menjadi bagian dari komitmen Museum Kabupaten Pidie Jaya dalam menjalankan fungsi edukasi, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan daerah. Melalui kegiatan seperti ini, warisan budaya berupa seni menganyam tikar seuke diharapkan tetap lestari, dikenal lebih luas, serta terus berkembang sebagai identitas budaya dan produk unggulan Kabupaten Pidie Jaya.



.jpeg)
.jpeg)


0 Komentar