Budayapijay.or.id - Museum Pidie Jaya kembali menegaskan perannya tidak hanya sebagai ruang pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan pemulihan sosial bagi masyarakat. Hal ini terlihat dari penyelenggaraan program trauma healing dan pemulihan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Kabupaten Pidie Jaya yang berlangsung di lingkungan museum, tepatnya di Taman Kota Cot Trieng, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan ini mengusung tema “Hina bak donya hareuta teuh tan, Hina bak Tuhan ileume teuh hana” dan diikuti sekitar 140 siswa SD/MI dari wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.
Program ini terselenggara berkat kerja sama antara Direktorat Bina SDM Lembaga dan Pranata Kebudayaan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, yang turut menggandeng Sanggar Seni Cut Meutia sebagai pelaksana kegiatan di Museum Pidie Jaya. Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi wujud nyata sinergi dalam menghadirkan ruang pemulihan berbasis budaya bagi masyarakat.
Bagi Museum Pidie Jaya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan ruang yang tidak hanya informatif, tetapi juga rekreatif dan terapeutik. Melalui kolaborasi tersebut, museum menghadirkan berbagai aktivitas berbasis budaya yang mampu menghidupkan suasana ceria di tengah anak-anak.
Beragam permainan tradisional khas Aceh seperti catoe, terompah, hingga plung ija kroeng dipadukan dengan permainan edukatif berburu harta karun di area museum. Aktivitas ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda.
Selain itu, anak-anak juga mengikuti sesi dongeng dan cerita rakyat yang sarat pesan moral, serta menikmati pertunjukan seni berupa tari teumampoe dan musik tradisional. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadikan museum sebagai ruang interaktif yang mampu membangun kembali semangat dan kebahagiaan anak-anak.
Kehadiran Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, turut memberikan motivasi kepada para peserta. Ia menekankan bahwa kebudayaan memiliki peran strategis sebagai media pemulihan emosional, khususnya bagi anak-anak pascabencana.
Sejalan dengan itu, Pamong Budaya Direktorat Bina SDM Kemenbud RI, Purnawan Andra, menyampaikan bahwa museum memiliki makna simbolis sebagai ruang refleksi bersama dalam menghadapi bencana. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan mampu mengembalikan keceriaan serta membangun kembali optimisme anak-anak terhadap masa depan.
Dari perspektif Museum Pidie Jaya, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa museum dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Tidak hanya menyimpan memori masa lalu, museum juga hadir sebagai bagian dari solusi atas tantangan sosial yang dihadapi masyarakat hari ini.
Pemerintah daerah melalui perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pidie Jaya turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini dan berharap adanya program lanjutan yang dapat memperkuat peran kebudayaan dalam pembangunan daerah.
Ke depan, Museum Pidie Jaya terus membuka diri bagi berbagai kegiatan edukatif, penelitian, maupun program sosial berbasis budaya. Museum mengajak seluruh masyarakat dan institusi pendidikan untuk memanfaatkan museum sebagai ruang belajar, refleksi, serta penguatan nilai-nilai kearifan lokal di tengah dinamika kehidupan modern.


0 Komentar