![]() |
| Makam Raja-Raja Meureudu |
Meureudu
memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Berdasarkan tulisan Drs.
Teuku H. Ya’qub Ali, “Sejarah Singkat Negeri Meureudu serta Perkembangannya”,
Meureudu berkembang sebagai sebuah wilayah yang memiliki hubungan erat dengan
Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa Meureudu
pada masa Kesultanan Aceh dikenal dengan istilah “Nanggroe Bibeuh” atau
negeri bebas, yaitu wilayah yang berada langsung di bawah kekuasaan Sultan
Aceh. Penduduknya disebut “Ureung Bibeuh”, yakni masyarakat yang berada
langsung di bawah Sultan dan tidak berada di bawah campur tangan pemerintahan
wilayah lain.
Status
tersebut memberikan gambaran bahwa dalam sejarah lokal Meureudu, gagasan
mengenai kebebasan telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Kemerdekaan dalam konteks sejarah Meureudu memang memiliki latar dan pengertian
yang berbeda dengan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Namun,
nilai kebebasan, kemandirian, tanggung jawab terhadap negeri, serta keberanian mempertahankan
wilayah menjadi benang merah yang dapat dikenang dalam semangat memperingati
kemerdekaan Indonesia.
Meureudu, Negeri Bebas dan Lumbung Beras Kesultanan Aceh
Dalam
catatan Ya’qub Ali, Negeri Meureudu memiliki kedudukan istimewa dalam struktur
Kesultanan Aceh. Meureudu disebut sebagai Nanggroe Bibeuh, sedangkan
masyarakatnya dikenal sebagai Ureung Bibeuh. Keistimewaan tersebut
disertai tanggung jawab tertentu, yaitu membantu Sultan Aceh menyediakan bahan
makanan pokok berupa beras. Meureudu pada masa itu dikenal sebagai salah satu
wilayah penghasil beras atau “gudang beras” bagi Kesultanan Aceh.
Hal
tersebut menunjukkan bahwa sebuah wilayah tidak hanya memiliki hak dan
kebebasan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi kehidupan
masyarakat dan pemerintahan yang lebih luas. Nilai tersebut relevan untuk
dimaknai kembali dalam peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia: kemerdekaan
bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang tanggung
jawab untuk membangun dan memberikan manfaat bagi bangsa dan daerah.
“Negeri
Meureudu hanya mempunyai kewajiban istimewa membantu Sultan Aceh untuk
menyediakan bahan makanan pokok (beras) karena negeri ini pada masa itu adalah
gudang beras.”
—
Drs. Teuku H. Ya’qub Ali, Sejarah Singkat Negeri Meureudu serta
Perkembangannya.
Dari Pertahanan hingga Perjuangan
Sejarah
Meureudu juga tidak dapat dilepaskan dari aspek pertahanan. Sumber mengenai Makam
Raja-Raja Meureudu menyebutkan bahwa Meureudu memiliki peran penting
sebagai basis pertahanan dan pusat kekuasaan dalam sejarah Kesultanan Aceh.
Kompleks makam para pemimpin Meureudu yang diperkirakan berasal dari abad ke-17
dan ke-18 menjadi salah satu bukti penting mengenai keberadaan pemerintahan dan
tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan strategis di wilayah tersebut.
![]() |
| Detail Nisan Makam Raja-Raja Meureudu |
Kompleks
makam tersebut berada di atas gundukan tanah dengan ukuran sekitar 30 x 16
meter dan tinggi sekitar 2 meter. Nisan-nisannya memiliki karakteristik khas
Aceh, antara lain bentuk pipih bersayap tipe C dan D, serta dihiasi ukiran
kaligrafi, flora, dan geometris.
Keberadaan
makam tersebut bukan sekadar tinggalan masa lalu. Ia merupakan pengingat bahwa
Meureudu memiliki sejarah panjang dalam membangun kekuasaan, menjaga wilayah,
dan mempertahankan identitasnya.
![]() |
| Lingkungan Makam Raja-Raja Meureudu |
Sumber:
Makam Raja-Raja Meureudu, budayaaceh.com. Dalam dokumen yang digunakan,
situs tersebut dijelaskan sebagai salah satu tinggalan yang menunjukkan
pentingnya Meureudu sebagai basis pertahanan dan pusat kekuasaan Kesultanan
Aceh.
Ketika Meureudu Menjadi Bagian dari
Sejarah Perlawanan terhadap Belanda
Semangat
perjuangan masyarakat Meureudu semakin jelas terlihat dalam catatan mengenai
tokoh-tokoh yang terlibat dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dalam
Sejarah Singkat Negeri Meureudu serta Perkembangannya, disebutkan T.R.
Muda Cut Lathif, putra dari Tgk. Chik H. Nyak Ngat, sebagai salah seorang
pejuang dan pahlawan daerah Aceh yang gigih melawan penjajah Belanda. Namanya
disebut telah masuk dalam inventarisasi nama-nama pejuang Aceh pada Seminar
Perjuangan Aceh sejak tahun 1873 sampai dengan Kemerdekaan Indonesia yang
diselenggarakan di Medan pada 22–25 Maret 1976.
Perjuangan
tersebut juga diteruskan oleh generasi berikutnya. T. Bentara Peukan,
cucu T.R. Muda Cut Lathif, disebut sebagai salah seorang pahlawan daerah Aceh
yang turut melawan penjajahan Belanda dan tercatat dalam inventarisasi pejuang
Aceh pada seminar yang sama.
Tidak
hanya dari kalangan bangsawan atau pemimpin pemerintahan, perjuangan juga
datang dari kalangan ulama. Tgk. Chik di Pante Geulima Syaikh H. Ismail
disebut sebagai seorang mujahid dan pahlawan daerah Aceh yang melawan Belanda
dan turut tercatat dalam inventarisasi nama-nama pejuang Aceh.
Dengan
demikian, sejarah Meureudu memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan
kebebasan bukan hanya dilakukan oleh satu kelompok. Pemerintahan, keluarga
pemimpin, ulama, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menghadapi
ancaman penjajahan.
Sumber:
Drs. Teuku H. Ya’qub Ali, Sejarah Singkat Negeri Meureudu serta Perkembangannya.
Perjuangan Tidak Hanya dengan Senjata
Salah
satu pelajaran penting dari sejarah Meureudu adalah bahwa perjuangan tidak
selalu diwujudkan melalui pertempuran. Membangun pendidikan, agama, pertanian,
dan kehidupan sosial juga merupakan bagian dari upaya membangun kekuatan
masyarakat.
![]() |
| Mesjid Iskandar Muda Sumber: liputangampongnews.id |
Dalam
catatan Ya’qub Ali, pada masa perkembangan Negeri Meureudu dibangun berbagai
fasilitas penting. Sultan Iskandar Muda disebut membangun Masjid Iskandar
Muda Kuta Batee pada tahun 1620, disertai pembangunan dayah pengajian. Pada
periode yang sama juga dibangun Kuta, yaitu kubu pertahanan yang di
dalamnya terdapat meuligoe Sultan. Selain itu, dibuka pula lahan persawahan di
Blang Manyang.
Di
sisi lain, Tgk. Di Pucok Krueng Beuracan membangun Masjid Beuracan pada
akhir tahun 1620, sedangkan Tgk. Japakeh membangun Masjid Madinah pada
tahun 1623 setelah kembali dari Perang Pahang.
![]() |
| Masjid Beuracan |
Catatan
tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pertahanan, pendidikan, agama,
dan ketahanan pangan dalam pembangunan Meureudu.
Nilai
tersebut tetap relevan dalam kehidupan Indonesia saat ini. Setelah kemerdekaan
diperoleh, perjuangan tidak berhenti. Perjuangan kemudian berubah bentuk
menjadi perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa, menjaga kebudayaan, membangun
daerah, meningkatkan kesejahteraan, dan mempertahankan identitas bangsa.
Kepemimpinan yang Berpijak pada Ulama, Adat, dan Ilmu
Sejarah
pemerintahan Meureudu juga memperlihatkan nilai penting dalam kepemimpinan.
Dalam menjalankan pemerintahan, Tgk. Chik Meureudu pertama, Meurah Johan
Mahmud, disebut selalu meminta petunjuk kepada ulama, penghulu adat, dan
cendekiawan atau hukama.
Tokoh-tokoh
seperti Tgk. Ja Pakeh, Panglima Malem Dagang, Tgk. Meurah Puteh, dan Tgk. Di
Pucok Krueng Beuracan disebut memiliki peran dalam memberikan bimbingan dalam
menjalankan hukum Islam dan adat Aceh yang bersendikan syariat Islam.
Dari
sini, peringatan kemerdekaan dapat dimaknai sebagai momentum untuk kembali
mengingat pentingnya kepemimpinan yang berilmu, bermoral, menghargai adat,
dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Kemerdekaan
memberikan ruang bagi masyarakat untuk menentukan masa depannya sendiri. Karena
itu, kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab, kebijaksanaan, dan
kemampuan untuk bekerja bersama.
Dari Meureudu untuk Indonesia: Merawat Ingatan, Menjaga Kemerdekaan
Sejarah
lokal sering kali menjadi bagian kecil dari cerita besar Indonesia. Namun,
justru melalui sejarah lokal, generasi muda dapat memahami bahwa perjalanan
menuju Indonesia yang merdeka dibangun oleh banyak daerah dengan pengalaman
perjuangannya masing-masing.
Meureudu
memiliki kisah tentang sebuah negeri yang pernah dikenal sebagai Nanggroe
Bibeuh, wilayah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Kesultanan Aceh.
Meureudu juga memiliki sejarah pertahanan, tokoh pemerintahan, ulama,
pendidikan, pertanian, serta para pejuang yang melawan penjajahan Belanda.
Jejak
tersebut dapat dilihat melalui tinggalan sejarah, termasuk kompleks makam
raja-raja Meureudu. Makam-makam tersebut menjadi pengingat mengenai keberadaan
para pemimpin masa lalu dan kedudukan penting Meureudu dalam sejarah Aceh.
Sementara
itu, kisah perjuangan T.R. Muda Cut Lathif, T. Bentara Peukan, dan Tgk. Chik di
Pante Geulima Syaikh H. Ismail menunjukkan bahwa semangat melawan penjajahan
juga tumbuh dari tanah Meureudu.
Karena
itu, memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dari perspektif Meureudu bukan
hanya tentang mengibarkan Merah Putih dan mengingat tanggal 17 Agustus 1945.
Lebih jauh, momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali
ingatan sejarah lokal dan menjadikannya sebagai sumber nilai bagi generasi masa
kini.
Kemerdekaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu perlu diisi dengan menjaga persatuan, merawat budaya, melindungi warisan sejarah, meningkatkan pendidikan, dan membangun daerah.
Semangat
perjuangan para pendahulu di tanah Meureudu menjadi bagian dari kekayaan
sejarah Pidie Jaya dan Aceh. Kini, tugas generasi penerus bukan lagi berperang
melawan penjajahan, tetapi berjuang menjaga identitas, merawat warisan
budaya, mencerdaskan generasi, dan membangun Pidie Jaya sebagai bagian dari
Indonesia yang maju dan berkarakter.
Sumber Rujukan
- Ya’qub
Ali, Drs. Teuku H.
Sejarah Singkat Negeri Meureudu serta Perkembangannya.
Naskah/tulisan yang disusun oleh Drs. T.H. Ya’qub Ali dan disalin ulang
pada 31 Juli 2023. Dalam dokumen disebutkan bahwa naskah tersebut berasal
dari tulisan yang disebarkan oleh Sekretariat Wilayah Kecamatan Meureudu
pada tahun 1993.
- Budaya
Aceh. “Makam
Raja-Raja Meureudu.” Sumber yang dicantumkan dalam dokumen:
budayaaceh.com/cagar-budaya/211/makam-raja-raja-meureudu. Uraian sumber
digunakan untuk menjelaskan keberadaan kompleks makam, karakteristik
nisan, serta posisi Meureudu dalam sejarah Kesultanan Aceh.
- Cek Mad
(Editor).
Sejarah Singkat Negeri Meureudu serta Perkembangannya. Artikel yang
memuat kembali dan menyunting naskah Drs. Teuku H. Ya’qub Ali, dengan
keterangan bahwa buku tersebut pertama kali disebarkan oleh Sekretariat
Wilayah Kecamatan Meureudu pada tahun 1993.



.jpeg)

.png)
.png)

0 Komentar