Budayapijay.or.id — Situs Masjid Madinah di Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua menjadi fokus kegiatan pembersihan dan pemulihan lingkungan pada 1 Februari 2026, menyusul dampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Kegiatan ini dilaksanakan secara gotong-royong oleh anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama tokoh masyarakat setempat, sebagai wujud kepedulian terhadap warisan budaya dan tempat ibadah umat Islam di daerah kita.
Pembersihan difokuskan pada area halaman masjid serta bagian dalam bangunan tua yang merupakan salah satu situs bersejarah di Kabupaten Pidie Jaya. Aksi bersih-bersih ini meliputi pengangkatan endapan lumpur, sampah organik dan material sisa banjir yang terbawa ke dalam kompleks masjid. Selain itu, anggota TNI juga membantu menata kembali sarana ibadah yang terdampak sehingga tempat ini kembali layak digunakan oleh jamaah untuk melakukan shalat dan kegiatan keagamaan lain.
Kegiatan yang berlangsung penuh kekompakan ini mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar karena tidak hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga menjaga nilai sejarah dan spiritual dari situs penting ini.
Bantuan Renovasi dari Pemerintah & Masyarakat Kota Tangerang
Tidak hanya sekadar pembersihan, upaya pemulihan Masjid Madinah juga mendapat dukungan dari luar daerah. Pemerintah dan masyarakat Kota Tangerang turut memberikan bantuan dalam bentuk renovasi bangunan masjid, termasuk pengecatan ulang dan pembersihan struktur bangunan yang mengalami kerusakan ringan setelah banjir.
Dukungan ini merupakan bagian dari kepedulian sosial yang melibatkan elemen pemerintah daerah dan komunitas masyarakat di Kota Tangerang yang bangun solidaritas terhadap sesama di wilayah terdampak musibah. Bantuan renovasi tersebut mencakup pengecatan fasad luar dan interior masjid, perbaikan bagian bangunan dari kerusakan dampak air, serta penataan lansekap area sekitar masjid agar kembali bersih dan rapi. Gerakan ini juga menunjukkan bahwa penghormatan terhadap warisan budaya dan tempat ibadah tak mengenal batas wilayah — melainkan wujud nyata sinergi nasional antar komunitas dan pemerintah di Indonesia.
Sejarah Masjid Madinah: Jejak Ulama di Tanah Rencong
Masjid Madinah merupakan salah satu bangunan masjid bersejarah yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Aceh, khususnya di Pidie Jaya. Berdasarkan catatan sejarah dan narasi budaya, lokasi masjid ini berada di Gampong Dayah Kruet dan memiliki bentuk denah bujur sangkar dengan struktur tumpang dan tiang utama yang khas. Bangunan ini ditopang oleh 16 tiang utama dan memiliki elemen arsitektur tradisional yang merepresentasikan bentuk awal masjid-masjid Nusantara.
Menurut cerita turun-temurun, masjid ini dibangun oleh Teungku Ja Pakeh, seorang ulama yang juga dikenal sebagai penasihat perang Kesultanan Aceh di masa lampau. Beliau datang dari tanah Arab dan menetap di kawasan Meureudu setelah kembali dari ekspedisi di tanah Melayu. Kegiatan beliau dalam dakwah dan pembinaan umat Islam mendorong pembangunan tempat ibadah ini yang kemudian dikenal sebagai Masjid Madinah.
Bangunan kuno ini juga dilengkapi dengan mimbar kayu dan kolam wudhu bergaya klasik di sisi timur, menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang masjid. Bangunan ini kini termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang memegang nilai penting baik dari sisi sejarah, arsitektur maupun perannya dalam penyebaran Islam di Aceh.
Sejarah lain mencatat bahwa masjid ini didirikan diperkirakan sejak awal abad ke-20, yaitu tahun 1927, oleh Endatu Tgk Dijapakeh menurut data profil masjid di Sistem Informasi Masjid Kemenag, namun selain itu banyak narasi lokal menghubungkannya dengan tokoh sejarah Islam yang lebih tua.
Nilai Budaya dan Spiritualitas yang Tetap Hidup
Masjid Madinah tidak hanya menjadi tempat ibadah biasa, tetapi juga simbol kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Meureudu selama berabad-abad. Kehadirannya telah menjadi pusat kegiatan keagamaan seperti shalat jumat, pengajian, dan peringatan hari-hari besar Islam. Keberadaan situs ini turut memperkaya sejarah Islam di Kabupaten Pidie Jaya yang dikenal sebagai tanah yang memiliki akar kuat tradisi dan budaya Islam.
Dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong, pembersihan situs ini oleh TNI dan warga menunjukkan betapa pentingnya merawat nilai warisan budaya tersebut, agar generasi mendatang tetap mampu menikmati serta memahami jejak sejarah leluhur di Negeri Rencong.

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


0 Komentar