Maestro Seudati Azhari Sulaiman Wafat, Warisan Seni Tradisi Seudati dari Pidie Jaya Terus Dikenang

Budayapijay.or.id — Kabar duka menyelimuti dunia seni dan budaya di Aceh. Salah satu maestro seni tradisi Seudati, Azhari Sulaiman atau yang lebih dikenal sebagai Syeh Dahri, dikabarkan meninggal dunia pada 19 Maret 2026 di kediamannya di Desa Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.



Almarhum mengembuskan napas terakhir akibat kondisi kesehatan yang menurun karena faktor usia. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi masyarakat, khususnya para pelaku seni tradisi di Pidie Jaya dan Aceh secara umum.

Syeh Dahri dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk seni Seudati. Sejak usia muda, ia telah aktif sebagai penari hingga menjadi pemimpin (syeh) dalam kelompok Seudati. Ia turut menghidupkan panggung-panggung seni, mulai dari tingkat gampong hingga ajang nasional dan internasional.

Perjalanan panjangnya dalam dunia seni membawa namanya tampil di berbagai panggung penting, termasuk Pekan Kebudayaan Aceh II dan misi budaya ke Amerika Serikat pada tahun 1990. Hingga akhir hayatnya, ia tetap berupaya mewariskan Seudati kepada generasi muda melalui sanggar yang dipimpinnya.

Kepergian beliau bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan budaya yang akan terus hidup dalam ingatan dan praktik seni masyarakat Aceh.


Biografi Singkat Maestro

Syeh Dahri: Penjaga Warisan Seudati dari Tanah Pidie Jaya

Azhari Sulaiman lahir pada 1 Juli 1950 di Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Ia dikenal luas sebagai Syeh Dahri, seorang maestro dalam seni Seudati.

Perjalanan keseniannya dimulai sejak usia 13 tahun. Berawal dari membantu kelompok Seudati, ia kemudian dilatih dan berkembang hingga mampu menguasai seluruh gerakan dan dipercaya sebagai pemimpin kelompok.

Namanya semakin dikenal saat bergabung dengan grup Seudati pimpinan Syeh Lah Bangguna. Bersama grup tersebut, ia tampil di berbagai panggung, termasuk ajang bergengsi seperti Pekan Kebudayaan Aceh serta berbagai festival seni di tingkat nasional.

Pada tahun 1990, ia turut membawa seni Seudati ke kancah internasional melalui pertunjukan di delapan kota besar di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan budaya dan pertunjukan hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya.

Sebagai maestro, ia tidak hanya tampil, tetapi juga membina generasi muda melalui sanggar seni, sebagai upaya pelestarian budaya Aceh. Dedikasinya diakui secara nasional, termasuk saat diundang dalam Panggung Maestro di Jakarta pada tahun 2023.

Ia wafat pada 19 Maret 2026 di usia 75 tahun, meninggalkan jejak panjang sebagai penjaga dan pewaris tradisi Seudati.


Daftar Karya dan Aktivitas Penting

Sepanjang hidupnya, Azhari Sulaiman telah terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya, di antaranya:

  1. Penampilan Seudati di Taman Budaya Padang, Sumatera Barat (1975)
  2. Penampilan Seudati dalam rangka HUT TVRI ke-25 di Museum Aceh (1987)
  3. Penampilan pada Festival Seni Senayan, Jakarta (1990)
  4. Pentas Seudati di Taman Ismail Marzuki (1990)
  5. Penampilan Seudati bersama Aneuk Syahi di Langsa (1992)
  6. Misi budaya internasional: penampilan Seudati di 8 kota besar Amerika Serikat (1990)
  7. Penampilan dalam Pawai Budaya Nusantara HUT RI ke-68 di Istana Merdeka (2013)
  8. Penampilan Seudati pada Pesta Rakyat Simpeda BRI di Pidie Jaya (2015)
  9. Penampilan Seudati bersama BPNB Aceh di Batam (2016)
  10. Penampilan dalam kegiatan BRR Aceh di Pidie Jaya (2018)
  11. Penampilan pada Pekan Kebudayaan Aceh II
  12. Penampilan budaya oleh Lembaga Adat Aceh di Sumatera Barat (1985)
  13. Penampilan dalam penyambutan kepulangan Hasan Tiro di Banda Aceh (2009)
  14. Penampilan pada Pekan Kebudayaan Pidie Jaya (2011)

Selain itu, beliau juga aktif membina dan mengembangkan sanggar seni sebagai ruang regenerasi bagi generasi muda dalam mempelajari dan melestarikan Seudati.


Warisan Tak Tergantikan
Jejak panjang yang ditinggalkan Syeh Dahri menjadi bukti bahwa seni tradisi bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga identitas dan jati diri masyarakat. Dedikasi beliau akan terus hidup dalam setiap gerak dan irama Seudati di tanah Aceh.

Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Menu Sponsor

Subscribe Text

Ikuti Channel YouTube Budaya Pijay